Asosiasi Panas Bumi
Indonesia (API) menilai investor masih enggan mengembangkan energi terbarukan
di Indonesia. Sebab, harga energi ramah lingkungan tersebut di dalam negeri
masih mahal.
"Energi
baru dan terbarukan di Indonesia masih cukup mahal karena industri belum
berkembang. kalau di Jerman dan China solar cell sudah murah, beda dengan
disini solar cell masih mahal," kata Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia
(API) Abadi Poernomo, Jakarta, Minggu (21/8).
Makanya,
dalam bauran energi nasional, penggunaan energi baru terbarukan masih kalah
ketimbang batu bara dan bahan bakar minyak. Abadi mendorong pemerintah
membenahi regulasi guna mendorong investasi pengembangan energi terbarukan.
"Dengan
adanya investor maka industri EBT akan berkembang."
Dalam
kesempatan sama, Kementerian ESDM meyakini pengembangan EBT tak akan terganggu.
Meskipun, anggaran kementerian vital mengalami pemangkasan signifikan.
"Target
pencapaian EBT sebesar 23 persen pada 2025 itu suatu keharusan dan suatu amanah
dari Undang-Undang. Dan tujuan pencapaian itu tetap berjalan tidak terganggu
dengan pemotongan anggaran," kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan
dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana.
Hingga
saat ini, katanya, program EBT sudah mencapai 10-11 persen.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar