Untuk pertama kalinya, wajah
Muslim Indonesia yang moderat menjadi topik diskusi antara para pemuka agama,
pengamat, diplomat, serta tokoh masyarakat di kantor pusat Perserikatan
Bangsa-Bangsa di New York. Diskusi yang diprakarsai Perwakilan Tetap Republik
Indonesia di PBB, Nusantara Foundation dan Dompet Dhuafa ini mengangkat tema
Islam Nusantara. Islam Nusantara dijadikan contoh bagi negara-negara dunia
untuk menunjukkan keragaman, toleransi, dan demokrasi.
Salah seorang pembicaranya adalah
Dr. James B. Hoesterey dari Universitas Emory di Atlanta, Georgia. “Sebagai
seorang antropolog yang sudah lama melakukan penelitian di Indonesia, saya
senang bahwa dunia luar dan wakil-wakil serta duta besar dari negara
masing-masing dapat mendengarkan sedikit lebih dalam mengenai Islam di
Indonesia yang mungkin tidak sama dengan Islam di negara mereka, misalkan Arab
Saudi," ujarnya. "Kalau kita lihat ke depan, mungkin Indonesia bisa
menjadi contoh.”
Dr. Chiara Formichi, pakar
sejarah Islam di Indonesia, dari Universitas Cornell di Ithaca, New York juga
terlibat dalam diskusi tersebut. Ia mengatakan kepada VOA banyak pelajaran yang
bisa dipetik dari Indonesia.
“Gagasan Islam Nusantara sangat
erat dengan budaya dan sejarah Indonesia. Saya tidak tahu bisa diterapkan di negara
lain atau tidak tetapi yang jelas bisa menjadi contoh untuk mengerti mengapa
seseorang memeluk Islam," katanya. "Ada banyak cara untuk memahami
Islam dan banyak cara untuk berinteraksi dengan non Muslim. Muslim disana juga
punya banyak pengalaman berbeda. Jadi ada banyak pelajaran yang bisa dipetik.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar