Pakar maritim Amerika Serikat,
sekaligus profesor di bidang Kajian Strategis dan Studi Maritim China dari US
Naval War College, Prof. Peter Dutton, mengatakan Indonesia memiliki peranan
yang besar di Laut China Selatan meskipun Indonesia tidak terlibat dengan
gesekan yang terjadi antara Negeri Tirai Bambu dengan berbagai negara di ASEAN,
yang memiliki wilayah di Laut China Selatan.
"Walaupun
Indonesia tidak terlibat dengan perdebatan di Laut China Selatan, namun sebagai
negara yang berbatasan langsung, Indonesia memiliki peranan besar," kata
Dutton melalui telekonferensi dengan awak media di kantor Kedutaan Amerika
Serikat, Jakarta, Rabu
(30/3).
Menurut dia, Indonesia bisa
melihat dari berbagai sudut pandang untuk menyelesaikan masalah perdamaian di
Laut China Selatan, misalnya dengan hukum internasional. Dia menyatakan Negeri
Tirai Bambu salah dengan melakukan pembangunan di Laut China Selatan, yang
berujung pada perselisihan dengan negara-negara yang punya wewenang atas Laut
China Selatan.
Dutton juga mengatakan, yang
dilakukan Indonesia dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan aktif sudah sangat
benar. Dengan hal tersebut, Indonesia merupakan model bagi negara lain untuk
tidak menganggap remeh negara berkembang.
Pakar maritim ini mengatakan
Indonesia merupakan negara kuat di ASEAN. Kepemimpinan Indonesia sangat kuat di
kawasan tersebut. "Sebagai negara kuat di kawasan ASEAN, Indonesia dan
Amerika Serikat bersama partner lain, seperti Australia dan India harus
berbicara untuk menegakkan hukum internasional," ungkap dia.
Dutton mengatakan, dengan
kekuatan tersebut negara-negara di kawasan ASEAN harus khawatir. Sebab China
tidak peduli dengan masalah yang ada di Laut China Selatan dan dengan masalah
abritasi.
"Kita harus khawatir dengan
apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kekuatan yang mereka punya sangat
memungkinkan mereka melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekedar membangun
pulau di Laut China Selatan," tutur Dutton.
"Saya sangat peduli dengan
masalah abritasi di Laut China Selatan, dan ini tidak bisa kita terima begitu
saja. Abritasi ini harus diikuti dengan hukum internasional dan diskusi global.
Mereka (China) tidak peduli dengan masalah abritasi itu."
Dari Boston, pria tersebut
menyatakan China harus bertanggung jawab atas ketidakstabilan yang mereka buat
di Laut China Selatan tersebut.
Beijing sendiri bersengketa
dengan beberapa negara ASEAN berbatasan langsung dengan Laut China Selatan,
seperti Malaysia, Filipina dan Vietnam. Mereka bahkan membuat pulau di wilayah
sengketa yang dikenal dengan Kepulauan Spratly.
Sumber : Merdeka.com


