Wacana kemerdekaan Catalan
(Catalonia) kembali terdengar. Bahkan kini semakin menguat. Pada 27 September
ini Catalan akan menyelenggarakan pilkada, lebih sebagai referendum (tak resmi)
untuk memerdekakan diri dari Spanyol bersatu.
Langkah politik untuk membentuk negara otonom sudah dilakukan
sejak lama. Bahkan sejak Catalan ditaklukkan oleh Spanyol pada 1714. Perjuangan
warga Catalan untuk kembali lepas dari cengkeraman Spanyol bahkan pernah memicu
terjadinya perang saudara pada 1930.
Demokratisasi yang semaking menguat mendorong warga Catalan kian
gencar menyerukan keinginannya. Referendum tak resmi pada 9 November 2014,
sekitar 80 persen warga Catalan ingin berdaulat.
Dunia memandang situasi ini tak semata-mata dengan kaca mata
politik. Meski dalam konteks Spanyol dan Catalan, politik dan bola telah jadi
satu sebagaimana Barcelona dan La Liga tak bisa dilepas pisah.
Ya, Barcelona. Salah satu klub terbesar di dunia sekaligus nama
salah satu provinsi di Catalan selain Girona, Lleida dan Tarragona. Sebagaimana
popularitasnya sebagai kota terbesar kedua di Spanyol bahkan menjadi salah satu
daerah metropolitan di Eropa, Barcelona pun telah mendunia dengan segudang
prestasi dan pesonanya. Namun kemerdekaan Catalan terancam menguburkan pesona
dan daya magis tersebut.
Terdepak atau meredup
Bila saja Catalan merdeka maka sudah dipastikan Barcelona
terdepak dari La Liga. Nama besar kompetisi tertinggi di sepakbola Spanyol itu
akan kehilangan kontestan yang telah menjadi salah satu ikon kompetisi dan 23
kali tampil sebagai yang terbaik.
Presiden Liga Spanyol Javier Tebas dan menteri olahraga negara
Miguel Cardenal telah mengisyaratkan hal itu. Barcelona, juga klub Catalan
lainnya seperti Espanyol tak ambil bagian di pentas La Liga.
Konsekuensinya, Tebas dan Cardenal memprediksi La Liga akan
terpecah. Barca sendiri akan berhenti menjadi kekuatan utama dalam sepakbola
Eropa baik dari segi pendapatan (pemasukan dari televisi menurun) maupun
kualitas tim karena rivalitas melemah bahkan hilang sama sekali.
Namun bukan tidak mungkin Barcelona masih tetap bisa mengibarkan
panji-panjinya. Namun riwayatnya akan seperti Ajax, Celtic atau Standard Liege.
“FC Barcelona tidak akan mampu untuk melanjutkan bersaing di
Liga Spanyol. Ini masuk akal untuk berpikir bahwa jika Catalonia merdeka, klub
bisa meminta untuk didaftarkan oleh federasi Spanyol,"ungkap Cardenal.
“Aspirasi olahraga dari klub Catalan akan berbeda. Barca,
misalnya, akan menjadi tim seperti Ajax, Celtic atau Standard Liege dan akan melakukan
dengan baik untuk sampai ke perempat final Liga Champions. Ini bukan argumen
berdasarkan keresahan tetapi pada kenyataannya,"lanjutnya.
Nasib El Clasico, Messi vs Ronaldo
Kehadiran Barcelona di pentas La Liga telah memberi warna
tersendiri. Terutama dalam persaingannya dengan raksasa ibu kota Real Madrid.
Pertemuan kedua tim besar ini menyertakan banyak hal. Tak hanya kompetisi
antara dua raja. Tetapi juga prestise dan persaingan antar wilayah.
Laga El Clasico telah dipandang sebagai persaingan antara dua
daerah saingan di Spanyol yakni Catalan dan Castile. Rivalitas dua wilayah ini
selalu menimbulkan ketegangan budaya dan politik. Pernah ada titik kelam dalam
lembaran sejarah Spanyol ketika warga kedua wilayah itu berperang, apa yang
disebut sebagai perang saudara. Hingga kini warga Catalan akan selalu melihat
Real Madrid sebagai cermin sentralisme dan dominasi Castile.
Tak heran saat kedua tim bertemu di lapangan hijau, serasa
seperti ‘pertempuran’ antara dua wilayah, dan ‘peperangan’ antarmasyarakat
kedua wilayah. Tensi tinggi pasti terjadi, belum lagi intrik dan kontroversi.
Di tribun penonton garis batas terlihat jelas, mana suporter Madrid dan mana
fans Barcelona. Penonton dunia disuguhkan koreografi memikat antar kedua kubu,
selain persaingan para pemain di lapangan. El Clasico selalu menarik perhatian
dunia, bahkan menjadi salah satu pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak.
Di luar lapangan persaingan pun tak kalah hebat. Perpindahan
Alfredo di Stefano dari Barcelona menuju Real Madrid menimbulkan kegemparan.
Hingga kini jarang ditemukan pemain dari kedua klub saling bertukar tempat.
Bursa transfer Spanyol seperti memiliki pengecualian di mana ada pintu tertutup
bagi Barcelona dan Madrid untuk saling bertukar pemain.
Ketika Gerard Pique melancarkan kritik terkait pesta ulang tahun
ke-30 megabintang Madrid Cristiano Ronaldo, secepat kilat ia mendapat reaksi
keras dari fans Madrid. Saat membela timnas Spanyol sekalipun, Pique tetap
dilihat sebagai pemain Barcelona, bahkan lebih dari itu seorang Catalan.
Entah apa yang terjadi jika Barcelona benar-benar terdepak dari
La Liga. Tak hanya El Clasico yang hilang, rivalitas para pemain di kedua kubu
pun setali tiga uang. Terlebih lagi antara Lionel Messi dan Ronaldo, dua pemain
terbaik sejagad yang tak pernah berhenti berburu gelar dan mengukir rekor.
Monopoli
Kehadiran Barcelona membuat La Liga tak semata didominasi Real
Madrid. Apa yang terjadi jika La Liga tanpa Barcelona? Tentu Madrid akan
semakin menunjukkan kedigdayaannya. Satu-satunya lawan yang diperhitungkan
hanyalah rival sekota, Atletico Madrid.
Hal serupa akan terjadi di Catalan. Sebagai satu-satunya saingan
di La Liga, Espanyol bukanlah lawan yang sepadan. Madrid akan memonopoli La
Liga dan Barcelona akan menjadi penguasa tunggal Catalan. Konstetasi bisa
berubah jika muncul tim-tim lain yang siap belanja besar-besaran untuk
membangun tim. Atau jika Barcelona disambut ke kompetisi lain, seperti Ligue 1
misalnya.
Lebih dari itu di level timnas bagaimana jadinya komposisi
skuad? Bukan rahasia lagi persaingan wilayah sudah merasuk hingga ke level
timnas. Selain Catalan, wilayah lainnya seperti Basque juga memiliki klub-klub
lokal yang tak pernah absen mencetak pemain bintang bagi timnas La Furia Roja.
Tak hanya duo Madrid, Barcelona, Atletico Bilbao, Osasuna dan Real Sociedad pun
tak pernah absen mengirim pemain ke level timnas.
Publik tentu masih ingat peristiwa miris pada Piala Dunia 2010
di Afrika Selatan. Semua pemain Spanyol yang berlaga sejak pertandingan pertama
hingga semifinal tak satu pun yang menyanyikan lagu kebangsaan Spanyol La Marcha Real.
Bagaimana jadinya timnas Spanyol jika tanpa para pemain Catalan?
Pemain sekelas Xavi Hernandez, Sergio Busquets, Cesc Fabregas, Jordi Alba,
Gerard Pique, Kiko Casilla, Cristian Tello, Bojan Krkic, Gerard Deulofeu, Marc
Muniesa, Andreu Fontas bahkan pelatih beken Pep Guardiola merupakan orang
Catalan.
Dilema Barcelona
Barcelona tak hanya menjadi
sebuah klub sepakbola tetapi juga medium pergerakan. Stadion Nou Camp telah
menjadi panggung bagi para pendukung Catalan untuk menyuarakan sikap.
Saat laga kandang terjadi, stadion megah tersebut menjadi ruang
aktualisasi kaum pro kemerdekaan. Spanduk Catalan
is Not Spain,bahkan hingga bendera kemerdekaan Catalan dikibarkan.
Setiap menit ke-17 dan detik ke-14 di setiap babak fans Barcelona akan
meneriakan kata merdeka. Menit tersebut menjadi penanda tahun 1714 saat
Catalonia ditaklukkan Spanyol.
Berbeda dengan Espanyol yang dikenal sedikit berpihak pada
pemerintah pusat, Barcelona menyediakan ruang yang lebih bagi rakyat Catalan
untuk bersikap. Pada masa kediktatoran Miguel Primo de Rivera (1923-1930) dan
terutama Francisco Franco (1939-1975), para pendukung kemerdekaan dan penentang
rezim berkuasa akan beramai-ramai bergabung dengan Barcelona sebagai cara aman
untuk menggelorakan aspirasi. Saat itu Barcelona mendapat privilese lantaran
kedekatan manajemen kluba dengan penguasa. Tak heran hingga kini Barcelona
menjadi simbol pergerakan. Barcelona itu “lebih dari sebuah klub’ (Mes que un
club) bagi rakyat Catalan.
Meski demikian seruan rakyat Catalan bertolak belakang dengan
kehendak manajemen. Sebagian besar jajaran Blaugrana menentang kemerdekaan
Catalan meski sang presiden Josep Maria Bartomeu telah menandatangani pakta
untuk mendukung referendum.
Namun seruan kemerdekaan ini tampaknya akan terus bergelora. Tak
kurang dari 1,4 juta fans Barcelona saat ini merupakan kaum pro kemerdekaan.
Secara legal hokum Konstitusi Spanyol tak membenarkan pemisahan
karena akan terhalang oleh keinginan masyarakat Spanyol lainnya. Namun bukan tidak
mungkin segala sesuatu bisa saja terjadi seperti telah terjadi di banyak negara
di dunia, termasuk di tanah air Indonesia
Sumber : Kompasiana.com